PENGARUH NOVEL YANG DIADAPTASI MENJADI FILM “ASIH” TERHADAP GENRE FILM YANG TAYANG DI BIOSKOP PADA SEPTEMBER-OKTOBER 2018

Fingki Sintia Bramanti S.
Universitas Pendidikan Indonesia
fingkisintia@student.upi.edu

Akhir-akhir ini film dengan genre horor sedang berbondong-bondong menghiasi layar kaca bioskop Indonesia. Hal ini menjadi tanda kebangkitan kembali film horor Indonesia setelah sempat redup beberapa tahun lalu. Tidak hanya angka penonton yang fantastis, kualitas dari film horor Indonesia itu sendiri juga bisa dikatakan lebih baik daripada sebelumnya. Salah satu film horor Indonesia yang sukses menarik perhatian para penonton adalah “Asih”, sebuah film yang diadaptasi dari Novel karya Risa Saraswati. Film ini laris di bioskop karena film sebelumya yang diadaptasi karya Risa sendiri berkesan bagi para penonton. Novelnya saja sudah membuat pembaca ketakutan apalagi filmya.

Novel “Asih” merupakan novel yang ditulis oleh Risa Saraswati dan diterbitkan oleh Kawah Media tahun 2017 dengan jumlah halaman 192 halaman. Letak keistimewaan tulisan Risa adalah dimana tulisannya selalu mengangkat tema cerita “mereka” yang pernah merasakan kehidupan seperti manusia. Novel “Asih” juga menceritakan tentang “mereka” yang tak kasat mata. Tokoh utama yang berperan kuat dalam novel ini, seorang gadis yang dibesarkan di tengah keluarga yang sederhana di pedesaan Sukaraja, sebuah pedesaan yang jauh dari kata ramai, ia memiliki tekad yang kuat untuk meraih semua cita-citanya. Kasih namanya, dibalik wataknya yang keras ia selalu mencintai adik-adiknya dan juga keluarganya.

“Namanya Kasih. Kedua orangtuanya berharap dia akan tumbuh dewasa dengan hati yang kaya kasih sayang. Bisa saja awalnya begitu, sebelum dirinya menjadi sosok yang seolah tak punya hati. ‘Kasih’ menjadi nama yang terlalu indah untuk si wajah kaku tanpa senyuman itu. Wajah yang lebih baik tak usah tersenyum, ketimbang bermalam-malam dihantui oleh bayangan mengerikan”. Salah satu penggalan dari Novel“Asih”

Hantu Asih menjadi terkenal sejak muncul di film Danur. Wajahnya yang rusak, penuh darah, gigi dan kuku yang patah betul-betul membuat film Danur berkesan seram. Siapakah Asih? Dalam buku Danur yang Risa tulis, Asih bukanlah sorotan utama. Meskipun demikian, kisah Asih punya tempat tersendiri, satu bab tersendiri mengenai alasan kemunculannya. Sayangnya, dalam satu bab tersebut, tidak banyak yang bisa diketahui dari tokoh Mbak Asih ini. Asih adalah hantu penghuni pohon besar yang ada di depan rumah yang ditinggali Risa ketika masih kecil. Oleh karena selalu dilindungi dan ditemani oleh Peter CS, Asih jarang mengobrol dan berbincang dengan Risa. Di sisi lain, Asih sebenarnya punya banyak hal yang ingin disampaikan kepada Risa, terlebih karena kisah kematiannya tragis dan tidak wajar. Risa sebenarnya sangat iba kepada sosok Asih. Sayangnya, penampilan Asih yang menyeramkan membuat Risa merasa takut alih-alih mau menemani Asih, seperti pertemanannya dengan Peter CS karena secara umum penampilan mereka lebih normal, lebih terlihat seperti teman manusia.

Bukan hanya menceritakan tentang seramnya tokoh Asih. Novel ini juga menceritakan tentang kehidupan masyarakat pedesaan Sukaraja, desa yang selalu jauh dari peradaban ibukota, yang masih percaya dengan tradisi kuno. Bahkan untuk mengenal satu sama lain masyarakatnya saja sangat sulit. Namun dibalik itu semua, kehidupan yang tergambar dari desa tersebut adalah kesederhanaan masyarakatnya. Alur yang dibuat menggunakan alur mundur, menceritakan kembali masa lalu kehidupan seseorang yang telah tiada, menurut kebanyakan pembaca Risa telah berhasil membuat para pembaca masuk kedalam dunia Asih.

Selain makna kehidupan saja, unsur-unsur nilai sosial dan budaya pun seolah-olah menyatu dalam novel tersebut. Memiliki nilai budaya yang masih kuno; gambaran bagaimana kehidupan seorang gadis desa pada masa itu. Lain tak lain harus menuruti adat dan istiadat yang berlaku disana.
Setelah Novel “Asih” terjual laris di pasaran karna ceritanya yang mampu menarik pembaca ke dunia horor yang diciptakan penulis, Novel ini pun diangkat ke Layar Lebar dengan harapan mampu menjadi film yang digemari masyarakat Indonesia seperti film “Danur” adaptasi dari Novel karya Risa juga. Dan sesuai dengan harapan belum genap 1 minggu tayang, Film “Asih” ini mampu menarik mata 1 juta penonton.

Angka yang sesuai informasi dari akun twitter @bicaraboxoffice menempatkan film ini mendapatkan perolehan angka opening day tertinggi kedua di 2018 dibawah Dilan 1990: 225.219 penonton dan diatas Wiro Sableng: 187.767 penonton. Tentu saja, film ini bakal menjadi film Indonesia selanjutnya yang mampu menembus sejuta lebih penonton.

Namun cukup disayangkan, diluar prestasi yang dinikmati film Asih beserta jajaran kru nya, film ini justru menjadi pemicu isu yang saat ini cukup hangat dibahas para penggiat dan penikmat film tanah air di media sosial twitter, dan nampaknya praktik model ini juga baru saja tercium di industri film tanah air. Ya, praktik tersebut adalah praktik manipulasi jumlah penonton dengan teknik yang biasa disebut dengan ngebom tiket.

Karena melejitnya Film “Asih” dikatakan mampu mempengaruhi dunia perfilman Indonesia, melihat banyak film yang tayang dengan genre horor pada bulan September-Oktober. Seolah ingin menyaingi rekor penonton Film “ASih”, beberapa film yang tayang konon memanipulasi jumlah penonton. Kemiripan yang nampak jelas pada film yang tayang di bulan September-Oktober ini salah satunya adalah Tokoh utamanya adalah perempuan seperti pada film Bisikan Iblis, Rasuk, Sakral, Arwah Tumbal Nyai: Arwah.

Tanggapan masyarat juga menyusut kepada faktor materil yang akan didapatkan oleh perusahaan perfilman yang membuat film horor meskipun kualitas dari film tersebut tidak termasuk bagus. Tidak semua film yang bergenre horor ini tidak berkualitas, tapi ada beberapa film yang memang dari judulnya saja sudah terlihat sensasi artis yang membintanginya saja, ditambah ada isu bahwa film tersebut membuat kecurangan memanipulasi jumlah penonton.

Dan melihat beberapa indikasi adanya kecurangan di industri film nasional berkat banyaknya twit dan cerita yang relevan, rasanya kecurangan itu memang berpotensi ada di industri film nasional. Apalagi, dugaan "bom tiket" terjadi di bioskop kelas A+ yang notabene pengunjungnya rata-rata orang yang cenderung menyukai film Hollywood dibanding film Indonesia. Cukup masuk akal memang dugaan "bom tiket" tersebut.

Pada akhirnya, isu ini memang belum bisa didapati kesimpulannya. Namun tentu saja hal ini jadi perhatian khusus bagi kita para penikmat Satra dan film Indonesia. Sebagai penikmat dan pendukung sastra dan film Indonesia, kompetisi yang fair dan real jelas menjadi impian kita semua.

Comments

Popular posts from this blog

TAK TERDUGA DIREKTORAT DAPAT MENGALAHKAN UPI SUMEDANG HANYA DENGAN 4 ORANG DI EVENT PORDOSKA TAHUN 2018

JANCOK!