Cipta Cinta


Di Sore penuh gempita
Eloknya jingga ikut menyapa
Alam seakan menduga

Ketika hati terkesima
Untuk kesekian kalinya
Sebut saja itu jatuh cinta
Umpamanya bunga yang merona
Merebakkan bulir pesona
Antara pergantian jingga dan terangnya rembulan

Pahit dalam cerita
Umumnya dirasakan semua
Tak terkecuali kita
Rangkaian hati yang disusun berdua
Akankah tersusun selamanya?

19 Februari 2017
Fingki Sintia



Bulan dan Bintang
Ada yang istimewa malam ini.
Dari jendela ku lihat langit bergairah menyambutku.
Bulan dan bintang pasrah menjatuhkan cahayanya ke bumi.
Ku dengar keramaian berhembus ke telingaku
Pernah ku berpikir menjadi orang lain itu sangatlah mudah, seperti menjiplak suatu gambar dari satu kertas ke kertas lainnya.
Ku kira dengan begitu kau juga bermetamorfosis menjadi apa yg kuinginkan.
Nyatanya setiap kutarik kau ke dalam inginku, malah semakin menjauh kau dalam kecewaku.
Bila bulan saja pasrah menjatuhkan sinarnya ke bumi kenapa aku tak bisa pasrah dengan dirimu?
Kadang terbesit dalam titik lemah hatiku untuk meninggalkanmu.
Namun setiap kucoba meninggalkanmu hatiku semakin tak utuh, hanya bangkai kesepian yang terus menyelinap diam-diam.
Jika seperti itu apakah aku masih ingin berpura-pura meninggalkan?

Dari Fingki Sintia
Untukmu yang tak pernah bisa kutinggalkan.






Aku Pergi
Kupastikan kepergianku ini berasal dari keputusan yang tidak mudah.
Tentu saja, ada air mata yang pasti menetes di hari-hari yang tanpa kau lagi.
Tentu saja, ada senyum-senyum kecil yang membuatku seperti orang gila.
Tetapi aku memang harus pergi, kita harus berpisah.
Kita tidak untuk kembali seperti dulu, cinta tidak harus mengulang semua canda yang beberapa di antaranya, hanya kita berdua yang bisa tertawakan.
Mungkin, kita keliru, saat dulu kita merasa kita dua orang yang begitu cocok. Ada tembok tinggi besar di antara kita, Terlalu kuat.
Kita memang pernah berdoa (dengan cara masing-masing), yang kurang lebih maksudnya sama; saling cinta adalah alasan kuat dipersatukan.
Apa mau dikata. Tak satu pun di antara doa itu yang terkabulkan.
Bersama bukanlah ujung dari kisah kita; dua orang yang saling sayang.
Pada akhirnya kita berjumpa pada cerita-cerita baru di dalam hidup masing-masing.
Di dalam cerita-cerita itu, diam-diam kita masih saling mengikuti.
Apa kabarmu, apa kabarku. Bagaimana keadaanmu, bagaimana keadaanku.
Pintu restu sudah ditutup, tetapi selalu ada jendela untuk kita memandang dengan perasaan yang sialannya, masih sama.
Tak apa.

Fingki Sintia
Desember 2018

Comments

Popular posts from this blog

TAK TERDUGA DIREKTORAT DAPAT MENGALAHKAN UPI SUMEDANG HANYA DENGAN 4 ORANG DI EVENT PORDOSKA TAHUN 2018

PENGARUH NOVEL YANG DIADAPTASI MENJADI FILM “ASIH” TERHADAP GENRE FILM YANG TAYANG DI BIOSKOP PADA SEPTEMBER-OKTOBER 2018

JANCOK!