SIAPA YANG GILA?
SANGGAR
SASTRA : SIAPA YANG GILA?
Panggung Sandiwara yang Menggila
RABU
(05/12/99) lalu di Dago Tea House, sebuah pementasan Sanggar Sastra dikemas
dengan nuansa “gila” bak di rumah sakit jiwa. Kegilaan mulai terasa sejak saat
memasuki ruangan tersebut mulai dari kursi penonton yang ditempeli tanda kursi
pasien, hingga pembawa acara yang mengenakan kostum dokter RSJ. Setiap penonton
diberi kipas plastik yang sudah digembari nama pemain
dan semua crew yang terlibat dalam pementasan tersebut. Cukup bermanfaat memang
untuk mengantisipasi keringat kegilaan yang akan mengucur ketika pementasan.
Pasien-pasien berkeliaran dengan ocehan penuh misteri, ada yang cekikikan,
menangis mengerang-erang, bertingkah laku seperti hewan. Pasien-pasien
menghipnotis penonton seolah membuat gila semua orang yang menonton. Bagaimana
tidak? Penonton malah terlihat seperti menggila cekikikan dengan lepasnya.
Seperti Tempat pada umumnya yang punya penghuni, Di
Rumah Sakit ini pun terdapat “si gila” penghuni dunia yang kumat dan tegang,
mereka yang tidak mampu menghadapi persoalan dunia. Tidak hanya jiwa “si gila”
yang sakit, bahkan jiwa-jiwa mereka yang melampaui batas kewarasan mereka bias
dibilang gila. Kisah berlangsung dari “si gila” yang memperkenalkan diri mereka
dengan ciri khas dan deritanya masing-masing, Mereka yang jiwanya butuh
pertolongan dan pengertian untuk menuntun menjalani hidup layak dan logis.
Menjadi
dokter jiwa adalah jalan yang dipilih Rogusta. Ia memilih mengurusi seluruh
penghuni dunia yang “gila” . Rogusta belum lama ini dipindah tugaskan ke Rumah
Sakit jiwa yang dipimpin oleh Prof. Dr. Sidarira. Rogusta seperti dokter jiwa
lainnya, diberikan tempat tinggal di RSJ tersebut dengan fasilitas yang mewah,
kebersihan dan keamanan yang sangat terjamin. Kamar robusta dibersihkan oleh
Mak Beo setiap 2 hari sekali. Selain Rogusta ada dokter lain di RSJ itu yaitu
dokter Murdiawan dan dokter Tunggul yang dipercaya oleh pimpinan dokter.
Rogusta bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa selama 27 tahun tak ada satupun
pasien yang dapat disembuhkan di RSJ ini? Apakah ada hal yang salah?
Para
Pasien dibawa oleh 2 orang perawat ke
ruang terapi guna memperbaiki kondisi
kejiwaan. Dikendalikan oleh dokter Murdiawan dan Dokter Tunggul, pasien yang
telah duduk di kursi yang ada talinya untuk mengikat tangan dan kaki
kemudian dipasang suatu alat pada
kepalanya. Setelah dokter menyalakan alat itu, sontak semua pasien bergetaran
seperti orang yang diestrum dengan tegangan yang tinggi. Robusta yang kala itu
melihat langsung menghentikan proses terapi. Ia merasa bahwa terapi tersebut
tidak harus dilakukan kepada pasien karena yang sakit bukan fisiknya tapi
jiwanya. Perdebatan kemudian terjadi antara Robusta dan para dokter. Datanglah
Prof. Dok. Sidarira, Pimpinan Dokter yang dipercaya oleh Pemilik RSJ Ibu
Marsinah meleraikan perdebatan tersebut. Rogusta kecewa dengan Jawaban Prof.
Dok. Sidarira yang tidak setuju dengan pemikiran rogusta mengenai proses
pengobatan yang dilakukan untuk mengobati pasien yang gila.
Keesokan
harinya, Ibu dan Bapak Rogusta datang ke RSJ untuk menjenguk anak kesayangan
mereka. Mereka disambut oleh dokter perempuan yang aneh. Mengapa bias aneh?
Karena dokter tersebut ternyata merupakan pasien RSJ yang mencuri pakaian milik
dokter tapi Ibu dan Bapak Rogusta tidak menyadarinya.
Mereka terus saja berbincang dengan dengan dokter palsu itu dan dihampiri
sekaligus dikerjai oleh pasien RSJ. Karena dokter tersebut bilang Rogusta tidak
dapat dijenguk, akhirnya Ibu dan Bapak Rogusta menitipkan makanan untuk Rogusta
kemudian meninggalkan RSJ itu. Tidak lama kemudian, dokter Tunggul datang
menghampiri dokter palsu untuk mencari pakaian yang dicuri oleh pasien gila.
Sementara
itu, Rogusta sibuk melamun dan berpikir tentang pasien dan sega sesuatu yang
ada di RSJ ini. Fasilitas pasien dan dokter jauh berbeda, kemewahan sangat
ditonjolkan untuk para dokter sedangkan untuk para pasien kamar-kamar dan
makanan sangat sederhana bahkan jauh dari kata layak. Sapi yang ada di sebrang
kamar Pasien pun ikut dipertanyakan oleh Rogusta, bagaimana tidak? Pasalnya
aneh saja bila dalam suatu RSJ ada peternakan sapi yang baunya menyengat hingga
ke kamar pasien. Mak Beo datang membersihkan kamar Rogusta seperti biasanya,
karena penasaran Rogusta berusaha bertanya kepada Mak Beo untuk mendapatkan Jawaban
atas kegundahan hatinya. Mak Beo menjawab semuanya dengan jujur dan apa adanya
dan ternyata terungkap satu fakta bahwa Mak Beo juga merupkan mantan pasien di
RSJ ini.
Pemilik
RSJ datang untuk berkunjung ke RSJ guna mengadakan rapat mengenai keadaan RSJ.
Semua Dokter diharuskan berkumpul dan menyambut pemilik RSJ itu. Ibu Marsinah,
panggilan untuk pemilik RSJ itu. Dia mengamuk dan menuntun para dokter untuk
mengembalikan kualitas RSJ agar seperti dulu lagi seperti pada masa kepemilikan
mendiang suaminya 20 tahun yang lalu. Setelah rapat selesai, Rogusta mencoba
berbicara kepada Ibu marsinah untuk mengubah metode pengobatan pasien agar
pasien bias disembuhkan, dan Ibu marsinah merasa ide Rogusta dapat
dipertimbangkan.
Banyak
sekali kelucuan dalam RSJ ini, salah satunya adalah hubungan rahasia Ibu
marsinah dan Prof. Doktor. Sidarira selama kurang lebih 20 tahun ini. Kemudian
sapi-sapi yang dipelihara di RSJ ini ternyata pemberian dari Presiden, itulah
mengapa sapi-sapi tidak dijual melainkan dipelihara di RSJ.
Rogusta
memulai mengubah semua komponen RSJ yang dirasanya menyebabkan kesembuhan
pasien terhambat yaitu Alat kejut otak yang digunakan para dokter dalam
menyembuhkan pasien, memperbaiki fasilitas dan kebersihan para pasien, dan
melatih para pasien berbicara menceritakan kehidupannya. Keadaan pasien pun
membaik, keceriaan timbul dari sorot mata para pasien. Namun ada satu lagi yang
mengganjal ketika memeriksa data para pasien. Satu Pasie wanita yang riwayatnya
hanya trauma saja, Rogusta penasaran dan mencoba menyelidiki dengan mengajak
pasien tersebut untuk berbicara. Pasien tersebut gagu, namun Rogusta dapat
mencerna setiap perkataan yang diucapkan oleh gadis gagu tersebut. Setelah
ditelaah, gadis itu tidak gila melainkan hanya gagu dan mengalami trauma
karenaa diperkosa oleh 5 orang dan kegaguannya itu ditimbulkan oleh tali yang
mencekik lehernya dengan kencang supaya tidak teriak saat diperkosa para
manusia biadab.
Baru
saja terungkap masalah gadis gagu itu, tiba-tiba muncul 3 orang yang membius
Rogusta dan gadis gagu. Mereka ternayara para dokter yang merasa tersaingi dan
iri terhadap rogusta yang telah berhasil memperbaiki keadaan pasien dan menjadi
dokter yang dipercaya oleh pimpinan dan pemilik RSJ.
Rogusta
dibawa menghadap ke Pemilik dan Pimpinan RSJ, para dokter dan perawat
melaporkan bahawa Rogusta telah melakukan pelecehan terhadap gadis gagu itu dan
dijatuhi hukuman oleh pimpinan dokter. Dilaporkan ke polisi dan dicabut gelar
dokternya. Tak sanggup menerima tudukan keji tersebut, Rogusta akhirnya ikut
menjadi gila seperti pasien-pasien di RSJ itu.
Pentas berakhir dengan gemuruh tepuk
tangan penonton mengapresiasi pementasan “gila” yang sukses membuat semuanya
menggila. Jadi siapa yang gila? Yang gila semuanya yang ada dalam pementasan
itu baik penonton,, crew, apalagi pemainnya. Sayang, kegilaan itu menyisakan
celah kekurangan yang sedikikit tapi membuat pengemasan pentas kurang “gila”.
Ruangan yang harusnya tak boleh sembarangan dibuka tutup agar cahaya dari luar
ruangan tidak masuk mengganggu jalannya pementasan malah banyak dibuka tutup
sehingga mengganggu konsentrasi penonton.
Penataan mik yang masih kurang rapih
dan musik yang terlalu nyaring didengar telinga juga lumayan mengurangi nilai
suksesnya pementasan tersebut. Waktu dimulainya pementasan juga terkesan ngaret
dari mengantri untuk masuk dan menunggu dimulainya pentas memakan waktu
menunggu sekitar 2 jam. Selebihnya tak ada lagi yang perlu dikritik dari
pementasan ini, acting pemain yang sangat natural sehingga membawa penonon hanyut
dalam pementasan adalah salah satu aspek besar yang mendukung kesuksesan
pementasan ini. Begitulah pementasan suatu drama yang mampu membuat siapapun
menggila dan tak mau keluar dari kegilaan itu karna saking terbawanya suasana.
Comments
Post a Comment
Silahkan berkomenta secara bijak dan sesuai dengan topik pembahasan